Tekun dan Sabar, Shahrin Hafal Lima Juz Alquran

Pekan lalu, SD Muhammadiyah 9 Malang menggelar Wisuda Alquran untuk angkatan keempat. Kegiatan diikuti oleh 38 siswa dengan dua kategori, tahfidz dan tartil atau khataman. Salah satu peserta wisuda bernama Khaira Shahrin Nahiza, peserta dengan jumlah hafalan terbanyak.

Siswi kelas VI ini sukses menghafal Alquran hingga lima juz, mulai juz 26 sampai juz 30. Prestasi tersebut merupakan pencapaian yang luar biasa bagi siswa sekolah dasar yang biasanya hanya mampu menghafal Alquran juz 30.
Kepada Malang Post, Khaira Shahrin Nahiza mengatakan, ia mulai menghafal Alquran sejak duduk di bangku kelas III. Berkat ketekunan serta bimbingan orang tua dan gurunya di sekolah ia mampu menghafal hingga lima juz Alquran. “Menghafal Alquran tidak sulit, setiap pulang sekolah saya selalu menghafal ditemani oleh mama,” ujar siswi yang memiliki cita-cita menjadi dokter ini.

Kepala SD Muhammadiyah 9 Malang, Sony Darmawan, M.Pd., mengatakan, prestasi anak didiknya dalam bidang Alquran tidak lepas dari ilmplementasi program bimbingan yang intens di sekolah. Setiap harinya minimal ada tiga sesi membaca Alquran, pada pagi di awal pembelajaran, di tengah pembelajaran dan akhir pembelajaran.
“Tujuan kami agar anak terbiasa membaca dan mendengar lantunan Alquran. Ini sebagai upaya kami untuk mendekatkan mereka dengan ayat-ayat Allah,” tandasnya.

Sony berharap para siswa yang telah diwisuda, tidak lantas kendor semangatnya untuk mengaji. Karena dengan pembiasaan membaca Alquran ilmu mereka akan berkembang. “Yang kami inginkan anak-anak bisa menghiasai rumah-rumah mereka dengan Alquran dan membanggakan orang tuanya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PCM Kecamatan Blimbing, Drs. Bambang Mulyadi yang turut hadir dalam acara merasa kagum dengan program pembinaan siswa di SD Muhammadiyah 9. Ia menilai siswa yang belajar di sekolah ini setiap harinya disibukkan dengan hal-hal possitif. “Dengan mengalihkan perhatian anak pada hal yang positif maka mereka akan terhindar dari hal yang negatif. Karena di masa sekarang kriminal sudah merambah ke anak kecil. Tidak lagi orang dewasa saja para pelakunya, itu karena kurang pembinaan,” tuturnya.

Oleh karana itu, kata dia, orang tua dan guru harus bisa membina dan mengarahkan anak mulai sejak kecil. Kalau sudah besar akan sulit untuk diluruskan.
Ia menganalogikan dengan sebuah pohon besar yang tidak bisa lagi tumbuh tegak karena saat kecil tidak diperhatikan. “Anak kalau dibina sejak kecil akan seperti pohon yang tumbuh tegak, rindang dan banyak buahnya,” pungkasnya.