Juara 1 Guru Berprestasi

Diyah Ayuning Tyas, M.Pd, guru SD Muhammadiyah 9 Malang menjadi utusan Kota Malang dalam ajang lomba guru berprestasi di tingkat Jawa Timur, tahun 2021 mendatang. Penghargaan tersebut ia dapatkan setelah sukses menjadi juara 1 Guru Berprestasi Kota Malang tingkat Sekolah Dasar beberapa waktu lalu.

Diyah merasa bangga bisa menjadi utusan kota Malang sekaligus mewakili SD Muhammadiyah 9. “Alhamdulillah tentunya ink berkat dukungan kepala sekolah dan teman-teman kami sesama guru,” ungkapnya kepada Malangpostonline.com.

Ia menjadi juara 1 tingkat Kota Malang setelah berhasil memenangkan lomba guru berprestasi tingkat kecamatan. Ia menjadi salah satu yang lolos ke tingkat kota dari empat utusan Kecamatan Klojen.

Diyah menjelaskan, dalam lomba tersebut ada beberapa tahap penilaian. Lomba dimulai 7 Februari 2020 lalu, dengan menyerahkan portofolio oleh seluruh peserta utusan kecamatan. Selanjutnya seleksi diteruskan dengan tes tulis, psikotes dan kepribadian, pada 17 Februari dan tes wawancara, pada 26 Februari 2020. “Seleksi diakhiri dengan presentasi Karya Tulis Ilmiah pada tanggal 5 Maret,” imbuhnya.

Dalam tes tulis dan wawancara, setiap peserta diuji kemampuannya tentang pengetahuan dan wawasan mereka terhadap kompetensi seorang pendidik. Minimal mereka harus mengetahui empat kompetensi, meliputi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian. “Disitu kita ditanyakan cara mengajar yang baik pada siswa, menyelesaikan sebuah kasus, dan unsur-unsur pembelajaran lainnya,” terang Diyah.

pun pada tahap presentasi, para peserta mempertanggungjawabkan KTI yang telah dibuat. Dalam hal ini Diyah, mempresentasikan aplikasi buatannya sebagai media pembelajaran berbasis daring atau online. Media tersebut ia namakan media bermain debit air berbasis android. “Pada awalnya saya membuat aplikasi ini karena anak-anak kita saat ini memasuki era revolusi industri 4.0. Dan ternyata sangat dibutuhkan dan bermanfaat saat kondisi seperti ini, dimana guru dan siswa mengajar dan belajar di rumah,” jelasnya.

Ia berharap di lomba tingkat Jawa Timur nantinya, bisa tampil lebih baik, sehingga dapat mengharumkan citra Kota Malang serta SD Muhammadiyah 9 Malang. “Yang pasti persiapannya harus lebih baik, karena seleksinya lebih ketat, mohon doanya semoga bisa memberikan yang terbaik,” harapnya. (imm)

Peringati Bulan Bahasa, Siswa SD Muhammadiyah 9 Bereksperimen Sains

Sebuah eksperimen menarik dilakukan oleh siswa-siswi SD Muhammadiyah 9 Malang. Selasa (5/11), dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, siswa kelas 6 didampingi guru dan tim dari Gramedia melakukan eksperimen sains. Beberapa percobaan tentang pelajaran IPA menarik minat siswa untuk menggali pengetahuan dengan cara yang berbeda.

Nama-nama percobaan sains yang dilakukan juga terbilang unik untuk kategori siswa Sekolah Dasar. Dengan maksud untuk semakin menarik minat mereka untuk belajar. Seperti angin tornado, kertas ajaib, kantong anti bocor dan gelembung hidung gajah.

Para siswa terlihat antusias dengan eksperimen tersebut. Tidak sedikit dari mereka yang ingin mencoba secara langsung, meskipun waktu yang tersedia sangat terbatas.

Rinton Priyantoro, S.Pd salah satu guru pendamping menyebutkan, eksperimen yang dilakukan siswa bertujuan untuk memperdalam materi IPA yang diajarkan guru di kelas. Antara lain tentang teori resapan air, tekanan air, perbedaan massa jenis air dan minyak. “Metode ini sangat efektif dalam memberikan pemahaman pada anak. Sebab mereka terlibat langsung dan tentunya lebih efektif dari sekedar mendengar saja,” ujarnya.

Percobaan sains atau pembelajaran berbasis eksperimen memberikan pengalaman yang berbeda bagi siswa SD Muhammadiyah 9. Selain karena metodenya yang menarik, mereka lebih mudah memahami materi yang dipelajari.

Joevini Zacky Saufano, salah satu siswa mengaku senang dengan eksperimen yang ia lakukan. Semangat belajarnya semakin meningkat setelah melakukan percobaan sains tersebut. “Senang bisa belajar dengan percobaan seperti ini, karena saya sendiri belum pernah melakukan,” katanya.

Eksperimen sains merupakan salah satu dari agenda peringatan Bulan Bahasa yang digelar SD Muhammadiyah 9 tahun ini. Ditambah dengan aneka macam kegiatan yang tidak kalah seru.

Antara lain pelatihan menulis cerpen khusus kelas 5, pelatihan membuat dongeng untuk siswa kelas 4, lomba membaca puisi dan mewarna untuk kelas bawah. Selain itu juga ada lomba membuat mading dua dimensi dan ada bazar buku di halaman utama sekolah.

Tema yang diusung untuk lomba Mading yakni Satu Bahasa, Bahasa Indonesia. Uniknya dalam lomba ini sekolah juga melibatkan orang tua dari paguyuban. Sehingga Mading yang dihasilkan terlihat cantik dengan hiasan bermacam aksesoris.

Semua karya siswa tulis siswa berupa artikel, puisi atau lainnya, dipajang di Mading tersebut. Bahkan karya tulis siswa dari kelas inklusi. “Semua siswa kita fasilitasi dan karya mereka kita hargai. Termasuk siswa inklusi. Tema tentang bahasa kita tonjolkan biar sesuai dengan bulan bahasa yang kita peringati,” ucap Loresta, guru Jurnalistik SD Muhammadiyah 9.

Kepala SD Muhammadiyah 9 Malang, Sony Darmawan, M.Pd, mengatakan kegiatan peringatan Bulan Bahasa tersebut juga untuk mengimplementasikan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), “Meskipun sudah memasuki Bulan November, kegiatan ini tetap harus digelar karena memang sangat tepat untuk program GLS serta untuk meningkatkan bakat peserta didik,” ucapnya.

Untuk mendukung program GLS tersebut, SD Muhammadiyah 9 dalam peringatan Bulan Bahasa kali ini juga menggelar pelatihan menulis cerpen untuk kelas 5. Rafif Akbar, salah satu siswa merasa  senang mendapat kesempatan mengikuti pelatihan menulis tersebut. “Saya sangat terbantu dengan pelatihan menulis ini. Awalnya saya cuma bisa menghayal, tapi sekarang sudah tau harus menulis dari langkah yang mana.” ujarnya.

Sumber : malangpostonline.com

Adakah yang Salah ketika Berbeda?

Kehidupan di sekitar kita terbiasa dengan sesuatu yang sama atau seragam. Seragam menunjukkan kekompakan, kesatuan, dan kebersamaan. Kesamaan tersebut menjadi sesuatu yang indah jika ternyata disetujui atau didukung mayoritas orang dalam sebuah komunitas. Keseragaman seolah-olah menunjukkan kebenaran terhadap sesuatu hal atau peristiwa.

Pada dasarnya, setiap manusia diciptakan dengan keberagaman antara satu dengan lainnya. Keberagaman tersebut membuka peluang munculya terjadi perbedaan ide atau pendapat dalam menyikapi suatu permasalahan. Perbedaan gagasan adalah sesuatu yang biasa, namun juga dapat menjadi sebuah permasalahan.

Dalam pendidikan, perbedaan sering ditemukan dalam kegiatan pembelajaran. Siswa dalam sebuah kelas pada dasarnya bukanlah siswa yang homogen, namun mereka adalah siswa yang heterogen. Bahkan, antara siswa satu dengan lainnya memiliki kekhasan dan perbedaan. Demikian pula cara mereka dalam mencapai kompetensi yang dipelajari. Terdapat siswa yang sudah cukup puas menguasai kompetensi dengan cara yang disampaikan oleh guru. Namun, terdapat pula siswa yang mencoba mencapai kompetensi menggunakan cara yang berbeda dengan guru.

Contoh sederhana dari keberagaman tersebut adalah pada mata pelajaran Matematika. Ketika guru menerangkan cara menghitung berapakah hasil dari 11 x 23, maka ada siswa yang menggunakan cara perkalian susun, ada pula yang menggunakan cara (10 x 23) + (1 x 23), atau mungkin dengan cara menambahkan (23+23+23+23+23+23+23+23+23+23+23). Ketiga cara tersebut sama-sama benar, baik secara konsep dan hasilnya. Bisa jadi guru mengajarkan perkalian dengan cara pertama, namun ternyata terdapat siswa yang mencoba menyelesaikan dengan menggunakan cara kedua atau ketiga.

Jika menemukan peristiwa seperti itu di kelas, maka guru tidak perlu menyalahkan siswa karena tidak menyelesaikan tugas sesuai dengan perintah. Sikap bijak yang perlu dilakukan oleh guru adalah mengapresiasi setiap perbedaan dan memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkannya dan memperluas khazanah keilmuan. Dengan demikian, siswa di kelas tersebut akan dapat menyelesaikan suatu masalah dengan cara-yang lebih bervariatif.

Pendapat atau ide yang berbeda tidaklah harus ditentang dan dianggap aneh. Salah satu peran guru adalah menanamkan sifat menghargai perbedaan sekecil apapun di antara sesama. Hal tersebut sebagai upaya membentuk kepribadian siswa. Jika sedari dini siswa dibiasakan menghargai perbedaan dalam hal sekecil apa pun, maka hal tersebut akan menjadi sebuah karakter yang melekat pada siswa di masa depan. Apalagi di negara Indonesia terdapat bermacam agama, bermacam suku bangsa, bermacam bahasa dan lain sebagainya. Sehingga memang perlu ditanamkan ketika kita berbeda janganlah di anggap aneh.

Berbeda belum tentu salah, sama belum tentu benar. Nilai tersebut perlu ditanamkan ke siswa agar selalu menghargai dan menghormati pendapat orang lain. Kebenaran tidak ditentukan dari jumlah, namun perlu dibuktikan secara ilmiah. Jika menjumpai pendapat orang lain benar, maka sifat terbaik adalah menerima dan mendukung pendapat tersebut sebaliknya jika menjumpai pendapat orang lain salah, maka sifat terbaik adalah menghargai pendapat orang lain. Oleh karena itu kita harus bisa menghargai setiap perbedaan yang ada.

 

 

Ditulis oleh: Diyah Ayuning Tyas, M.Pd

Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Latihan Mengenal Mata Uang, Siswa Kelas 2 SD Muhammadiyah 9 Kota Malang, Menggelar Praktek Pasar Kelas

Jika berbicara tentang inovasi pembelajaran, memang SD Muhammadiyah 9 Kota Malang, adalah gudangnya guru bidang inovasi media pembelajaran. Bahkan beberapa prestasi sudah diraih guru di sekolah yang dipimpin oleh Kasek Soni Darmawan, SPd, MPd, ini.

Latihan Mengenal Mata Uang, Siswa Kelas 2 SD Muhammadiyah 9 Kota Malang, Menggelar Praktek Pasar Kelas 1
MERIAH: Suasana pasar kelas di SD Muhammadiyah 9 Kota Malang.

Seperti hari Rabu (9/10) kemarin, berbeda dengan sekolah laiannya, SD Muhammadiya 9 Kota Malang menggelar pasar kelas. Ya, pasar kelas? Koordinator pelaksanaan pasar kelas, Novi Prawita, SPd, menjelaskan tentang pasar kelas SD Muhammadiyah 9 Kota Malang.

Disebut pasar kelas, kata Novi-nama panggilan Novi Pravita-karena siswa yang berada di kelas menggelar miniatur pasar di halaman sekolah. Keberadaan pasar kelas ini didesain semirip mungkin dengan keberadaan pasar pada umumnya. Sehingga siswa benar-benar merasakan suasana pasar yang dilihatnya.

Latihan Mengenal Mata Uang, Siswa Kelas 2 SD Muhammadiyah 9 Kota Malang, Menggelar Praktek Pasar Kelas 2
PENGUSAHA KECIL: Menjadi pengusaha

Pasar kelas ini diungkapkan Novi ada kaitannya dengan mata pelajaran di sekolah. Mata pelajaran tersebut tematik  matematika yang ada hitungan menghitungnya maupun mata pelajaran yang kaitannya dengan ekonomi. Berangkat dari sinilah guru berinovasi membentuk panitia untuk membuat pasar kelas.

Aktivitas di pasar kelas ini, kata Novi, sama persis seperti pasar pada umumnya. Yaitu ada transaksi jual beli, ada hitungan pengembalian uang, hingga bagaimana memasarkan suatu produk. Tapi semua yang ada di pasar kelas ini fokusnya pembelajaran siswa terhadap mata uang kemandirian, kerjasama, dan hitung menghitung.

Novi lantas mencontohnya ketika siswa membeli suatu produk dengan uang Rp 1.000 jika ditukarkan bisa menjadi uang pecahan berapa saja. Uang yang digunakan dalam pasar kelas ini adalah uang kartu yang sering diunakan sebagai media pembelajaran. Itu sebabnya, Novi berharap setiap tahun selalu ada pasar kelas. Selain efektif sebagai media pembelajaran juga melatih siswa untuk mandiri, berani, dan latihan mata uang. (foto: diah/pewarta: doni osmon)

Upgrading Wawasan Kebangsaan

Menjelang berakhirnya liburan sekolah, Muhammadiyah 9 Malang bekerjasama dengan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Pendidikan Kewarganegaraan (P4TK IPS PKN) menggelar upgrading Wawasan Kebangsaan. Kegiatan tersebut dilakukan selama 2 hari yaitu Senin-Selasa (8-9/7/2019) di Aula SD Muhammadiyah 9 Malang.

Mendatangkan Wening Wijayanti dan Rif’atul Fikryaj sebagai narasumber, upgrading tersebut dikemas dengan melakukan banyak simulasi yang menarik dan menyenangkan sebagai bekal guru dalam menyiapkan pembelajaran di kelas bersama peserta didik. Narasumber mengawali kegiatan dengan menguji pemahaman guru tentang wawasan kebangsaan, kemudian dilanjutkan dengan simulasi pembelajaran tentang membuat peta negara Indonesia dengan metode yang sangat menarik sehingga membuat suasana upgrading semakin hidup.

Keseruan hari kedua semakin terasa dengan beberapa kegiatan yang tak kalah menariknya dengan hari pertama. Kegiatan pertama di hari kedua diawali dengan melakukan pengamatan dan klasifikasi contoh pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari yang ada pada media cetak, yaitu koran. Dengan metode windows shoping, seluruh peserta diminta untuk mengamati hasil kelompok lain serta memberikan tanggapan. Selanjutnya, seluruh peserta secara tiba-tiba diminta mengklasifikasikan gambar, nama, dan deskripsi tokoh pahlawan bangsa.

Selain itu, guru juga mendapat kejutan dari narasumber berupa diajak menyanyikan lagi Indonesia raya 3 stansa menggunakan video yang ditampilkan lewat monitor. Begitu video selesai, tiba-tiba narasumber meminta guru untuk menyusun potongan lirik lagu Indonesia Raya 3 stansa. Tentu hal tersebut membuat ruang aula menjadi lebih hidup dengan ekpresi kebingungan dan semangat dari seluruh peserta.

Yang manarik dari kegiatan upgrading tersebut adalah selama kegiatan seluruh peserta dilarang menggunakan gawai sama sekali sampai acara selesai. Itulah yang membuat kegiatan menjadi lebih menarik dan menantang.

SD Muhammadiyah 9 Malang Gudangnya Siswa Berprestasi

Kreativitas dan semangat siswa SD Muhammadiyah 9 Malang membuahkan segudang prestasi. Pembinaan dan kerja keras guru di sekolah mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam berbagai bidang. SD yang terletak di Jalan Tumenggung Suryo No 5 Kota Malang itu terus bertekad membangun karakter dan kreatifitas siswa.

Pada 2019, sederet prestasi sekolah yang membanggakan tidak hanya diraih siswa, namun juga guru. Prestasi itu di antaranya, juara 3 Cerdas Cermat dalam Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam IV Provinsi Jatim ditorehkan M Nabil Amirullah, Aflaha Ayatillah, dan Zubair Ramadhan; Juara 1 Kelas L Putra Kejuaraan Pencak Silat Terbuka Paku Bumi Open VI 2019 Asia-Eropa di Bandung yang ditorehkan Janitra Evan Bachtiar.

Selanjunya Juara 1 Pencak Silat Kejuaraan Merpati Putih Malang Raya di UB yang ditorehkan Bram Wicaksono; Juara 1 Malang Piano Competition 2019 Grade 2 – B1 Asosiasi Guru Piano Malang yang ditorehkan Aqila Muna Herdianti; Peraih Merit Ajang Kompetisi Sains Nalaria Realistik Nasional di Bogor, Andhika Aqil Fattan; dan Peraih Medali Perunggu Olimpiade Nasional & Sains Emerald Education Centre di Surabaya, Laksmi Rahayu.

Sementara guru SD Muhammadiyah 9, Diah Ayuningtyas MPd meraih prestasi dalam Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Badan Pengembangan Bahasa & Perbukuan Kemendikbud di Jakarta.

Kepala SD Muhammadiyah 9 Malang Sony Darmawan MPd menyatakan, prestasi yang ditorehkan siswa dan guru akan diapresiasi sekolah. Salah satunya dengan publikasi prestasi yang mereka torehkan. Tidak hanya itu, pihaknya juga membantu siswa kelas akhir yang berprestasi agar bisa melanjutkan di sekolah favorit. “Kami selalu mendukung dan membimbing siswa maupun guru untuk meraih prestasi hingga tingkat Internasional. Baik prestasi di bidang akademik maupun nonakademik,” terangnya.

Wakil Kepala SD Muhammadiyah 9 Malang Lutfi Kariyono SPd menambahkan, pihaknya selalu mendorong kreatifitas siswa. Pembinaan ekstrakurikuler dan pendampingan bakat siswa juga tak luput dari perhatian sekolah. “Dukungan kami dengan pembinaan dan pendampingan. Prestasi ini bukan hanya untuk sekolah, tapi agar bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Sumber : website radarmalang.id

Assembly Day

SD Muhammadiyah 9 Malang hari Kamis (2/5), tampak berbeda. Para peserta didik ke sekolah tidak mengenakan seragam seperti biasanya. Tetapi, mereka menggunakan baju sesuai dengan ekstrakurikuler yang mereka ikuti masing-masing. Begitu juga ustadz-uztadzahnya yang kompak mengenakan pakaian bernuansa biru navy. Hal tersebut dikarenakan adanya kegiatan Assembly Day dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Assembly Day merupakan acara yang dikemas dengan mengadakan pentas seni dan pameran yang diikuti oleh seluruh peserta didik SD Muhammadiyah 9 yang telah mengikuti ekstrakurikuler selama 1 tahun untuk berekspresi dan berkarya.

Beragam kre­ati­vitas dari berbagai ekstrakurikuler  di­tun­­­jukkan. Me­reka tam­pil pe­nuh ceria dan me­ng­un­dang decak ka­gum karena ak­si pa­ng­gung me­­reka yang be­gitu at­rak­tif dan krea­tif. Mulai dari drumband, qiroah, tari semaphore, puisi, drama bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, Tapak Suci, tari tradisional, hingga pidato bahasa Arab.

Selain itu, acara yang mengangkat tema ‘Menembus Batas Potensi dengan Karya Seni’ tersebut juga menggelar pameran karya dari ekstrakurikuler lain seperti karya ilmiah yang memamerkan aneka ragam percobaan ilmiah, robotik memamerkan robot-robot sederhana karya siswa, kerajinan tangan, membatik hingga catur.

Fadhil Hermawan, ketua pelaksana sekaligus tim kesiswaan di sekolah mengatakan kegiatan tersebut digagas untuk menggali kreativitas peserta didik di luar potensi akademik. “Melalui pentas seni dan pameran ini siswa dapat menyalurkan bakatnya dengan wadah yang berbeda. Seluruh ekstrakurikuler akan menunjukkan kemampuannya masing-masing pada acara ini”, tuturya. (Loresta)

Tari Semaphore

Pembacaan Puisi

Pameran di Acara Assembly Day

Harus Cek dan Ricek!, Guru SD Muhammadiyah 9 Malang Belajar Jurnalistik

Samangat belajar ditunjukkan oleh 15 guru SD Muhammadiyah 9 dalam pelatihan menulis berita, Sabtu (9/2). Bersama Pemimpin Redaksi Malangpostonline.com, Husnun N Djuraid, para guru di sekolah Jalan Tumenggung Suryo ini dilatih untuk bisa membuat produk jurnalistik yang bagus.

Hasil program pelatihan ini nantinya difokuskan pada pengembangan website sekolah agar kaya akan informasi dan berita-berita tentang program pendidikan yang ada di SD Muhammadiyah 9 Malang. Para guru peserta pelatihan tampak antusias menyimak dan memperhatikan setiap alur materi yang dijelaskan oleh Husnun N Djuraid selaku pemateri.

Pada kesempatan tersebut,  Husnun menjelaskan, bahwa produk jurnalistik dihasilkan melalui proses pengumpulan,  penulisan, pengeditan dan penyebaran berita. Proses tersebut dilakukan sang jurnalis atau wartawan media massa. “Berita harus faktual. Maka perlu dilakukan cek dan ricek,” kata Husnun.

Ia menambahkan,  membuat berita tidak cukup dengan cek saja. Tapi wartawan harus melakukan ricek atau konfirmasi dengan wawancara narasumber. “Karena berita berbeda dengan opini. Berita dihasilkan melalui proses konfirmasi,” terangnya.

Sedangkan opini, lanjut Husnun,  dihasilkan atas presepsi penulis.  Sehingga tanggungjawabnya pun berada pada yang bersangkutan. “Kalau berita yang bertanggungjawab adalah redaksi,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan,  perbedaan antara informasi dan berita. Menurutnya,  informasi merupakan bagian dari berita. Wartawan bisa menghasilkan sebuah berita dari informasi yang didapat.  “Jadi jangan samakan informasi dengan berita,” tandasnya.

Pada pelatihan jurnalistik ini, Husnun memberikan motivasi kepada guru-guru SD Muhammadiyah 9 agar semangat menulis berita. Dimulai dari hal-hal kecil yang ada di lingkungan sekokah.

Termasuk disetiap program pengajaran baik di kelas maupun di luar kelas. “Dimana-mana ada berita.  Setiap program bisa dijadikan berita.  Misalnya kunjungan ke museum atau kegiatan belajar lainnya di luar sekolah,” tuturnya.

Supaya Guru Mau Menulis Dibuka Pelatihan Jurnalistik

SD Muhammadiyah 9 Malang mengadakan pelatihan jurnalistik yang diikuti masing-masing perwakilan guru kelas yang berjumlah 15 orang di Ruang Kelas 1 Ibnu Sina, Sabtu (9/2/2019). Pelatihan menghadirkan Pemimpin Redaksi Malangpostonline.com Khusnun N. Djuraid sebagai narasumber.

Khusnun, sapaan akrabnya mengatakan, selama ini  jika ada pemberitaan  negatif tentang guru di media massa tidak  pernah ada pembelaaan. ”Berita tersebut dicerna begitu saja seolah mengiyakan. Padahal kita harus mengendalikan media. Guru harus melakukan pembelaan dengan tulisan. Baik itu berupa artikel atau pun opini,” katanya.

Saat ini, sambung dia, banyak media cetak maupun online tapi tidak banyak yang mengirim tulisan. ”Kebanyakan orang sekarang  ini menganaktirikan  bahasa tulis. Lebih banyak menggunakan lisan. Padahal, hanya dengan satu alat yaitu gawai, kita bisa menjadi pimpinan redaksi, editor, dan lainnya di perusahaan sendiri yaitu media sosial yang kita punya,” jelasnya.

Pelatihan yang mengangkat tema Satu Goresan Sejuta Perubahan ini juga praktik membuat berita. Satu per satu peserta diminta dan dibimbing membuat berita.

Khusnun mengingatkan, membuat berita tidak cukup dengan mengumpulkan informasi. Tapi juga harus melakukan recek. ”Karena berita itu berdasarkan fakta yang diperoleh dari konfirmasi atau wawancara langsung,” terang pria kelahiran Surabaya tersebut.

Sementara Kepala SDM 9 Sony Darmawan mengatakan, pelatihan jurnalistik membuat berita ini merupakan yang pertama kalinya diadakan. ”Dari pelatihan ini guru-guru dapat menulis dengan bagus dan bisa mengisi website sekolah,” katanya.

Begitu pelatihan jurnalistik ini selesai, sambung dia, peserta diberi tugas rencana tindak lanjut membuat berita satu lagi dan dikumpulkan.

Sumber www.pwmu.co

1 2