RELAKAN KAMAR JADI SANGGAR BACA

Ini bukan guru biasa. Ia melampaui tugasnya sebagai seorang guru sekolahan. Itulah Diyah Ayuning Tyas SPd, M.Pd. Menggelorakan budaya literasi membentuk karakter anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Hari Buku Sedunia, Jumat (23/4) jadi penyemangatnya agar terus menulis buku.

Relakan Kamar Jadi Sanggar Baca

NewMalangPos – AWALNYA Diyah Ayuning Tyas SPd, M.Pd ingin pindah dari kediamannya di kawasan Kelurahan Lesanpuro Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Ia merasa kurang betah karena selalu melihat kondisi warga sekitar yang kerap bertengkar. Juga tak jarang mendengar lontaran kata-kata kasar jika sedang berseteru.

Tapi niat Diyah itu akhirnya tertunda. Dia memilih bertahan. Nalurinya sebagai seorang guru tergerak. Jika pergi, kondisi di sana tidak akan berubah.

Ibu empat orang anak ini menyadari hal itu dapat diubah dengan kebiasaan yang baru seperti menambah ilmu dengan membaca. Ia tidak ingin anak-anak sekitarnya tumbuh dengan minim budaya literasi.

Maka pada tahun 2015, guru SD Muhammadiyah 9 Kota Malang ini membangun Sanggar Baca.
Ia menamakannya Sanggar Baca Lesanpuro (Sabaro). Letaknya di Lesanpuro Gang 2, RT 6 RW 1 No 554 Kota Malang. Sanggar Baca ini berawal dari hanya 100 koleksi buku dengan tiga orang anak yang menjadi “langganan” membaca.

“Sekarang koleksi kami sudah 1.000 buku lebih. Biasanya 20-30 lebih anak ke sini baca dan berkegiatan pada Sabtu dan Minggu. Kalau ada acara bisa ratusan anak,” kata perempuan kelahiran tahun 1984 ini saat ditemui New Malang Pos di Sanggar Baca Lesanpuro yang didirikannya di rumahnya sendiri.

Singkatan Sabaro pun memiliki arti sendiri. Karena ia kerap menemukan tetangga atau pun warga sekitarnya bertengkar, maka diambil lah frasa ‘Sabar’ yang diartikan dalam Bahasa Jawa “Sabaro” yang artinya mengajak untuk bersabar.

Dengan spirit tersebut, ia bersama sang suami, Arif Irfan Fauzi, SPd, M.Pd guru di SMPN 27 Malang mengorbankan teras rumah dan sebagian kamar tidur rumahnya dijadikan ruang belajar dan baca.

“Di tahun 2015 dulu masih teras kami saja. Tapi setahun kemudian dilebarkan lagi kedalam karena banyak yang minat. Awalnya dua sampai tiga anak saja yang datang minta dibantu kalau ada PR (Pekerjaan Rumah). Lama-lama ajak teman lain, lalu diajak yang lain sampai ramai,” jelas Diyah.

Di saat itu pula ia dan suaminya semangat memperbanyak kegiatan. Juga menambah koleksi buku. Ternyata apa yang dilakukan Diyah ini menggaung kemana-mana.
Hingga akhirnya pada tahun 2018 lalu, istri mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, Suryan Widati Muhadjir berkunjung ke Sanggar Baca Lesanpuro milik Diyah. Sanggar Baca Lesanpuro pun makin menggaung.

“Kami saat itu langsung dapat sumbangan buku-buku dan juga ada sumbangan dana untuk mengembangkan sanggar,” kata alumnus Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.
Bantuan lain pun ikut berdatangan. Tahun 2019, Sanggar Baca Lesanpuro mendapatkan bantuan dari program KKN mahasiswa Politkenik Negeri Malang (Polinema). Dari situ Sanggar Baca Lesanpuro bisa lebih luas lagi karena dibangun lebih bagus dan dicat dengan warna menarik.

Tidak hanya itu dari program ini dibangun pula taman hidroponik dan kolam lele sebagai salah satu media tambahan pembelajaran edukasi di Sanggar Baca Lesanpuro.

“Lalu bantuan program dari Perpustakaan UM juga ada. Mereka membantu di segi kepustakaan. Jadi buku-buku koleksi Sabaro dilabelkan. Diurutkan sesuai klasifikasinya, dinomeri. Ditata bagus,” ungkap perempuan ramah berkacamata ini.

Hingga saat ini 1.000 lebih koleksi buku di Sanggar Baca Lesanpuro bisa dimanfaatkan anak-anak warga sekitar. Hanya saja di masa pandemi jumlah anak-anak dibatasi. Hanya sekitar 10 anak saja hadir di satu waktu. Sanggar Baca Lesanpuro buka tiap Sabtu dan Minggu.

Tak hanya menerima sumbangan buku saja Diyah dan suaminya tiap bulan belanja buku baru.
“Tiap bulan kita tambah 10 sampai 15 buku baru. Bisa Rp 1 juta untuk belanja buku tiap bulannya,” tandasnya. (ica/van)

Sabaro dan Terbitkan Buku

Sabtu, 24 April 2021

Dirikan Penerbit Buku

Tidak hanya mendirikan Sanggar Baca Lesanpuro, Diyah Ayuning Tyas SPd, M.Pd juga membuat penerbitan buku sendiri. Perempuan kelahiran Lamongan ini selain berprofesi sebagai guru juga sangat mencintai dunia literasi. Sejak  tahun 2015 lalu ia telah menghasilkan 15 judul buku. Semua bukunya berkaitan dengan edukasi dan ilmu-ilmu pembelajaran anak.

“Dari 2015 sudah menulis. Tapi baru mendirikan usaha penerbitan baru awal pandemi kemarin di tahun 2020,” tegas Diyah.
Usaha penerbitannya itu diberi  nama Zahra Publisher. Nama Zahra identik dengan nama anak pertamanya, Afnan Nasywa Aszahra, yang ternyata juga sudah pernah menerbitkan buku karya sendiri di usia 7 tahun. Kini Zahra, sudah beranjak usia 11 tahun. Ia juga baru saja menerbitkan buku keduanya.

Diyah menceritakan, putri pertamanya itu memang suka menulis sejak TK. Dimulai dengan menulis cerita keseharian di sebuah buku catatan harian (diary).

Sumber: Malang Post edisi Sabtu, 24 April 2021