Peranan Membaca dalam Kehidupan

Al-Qur’an yang pertama kali turun disampaikan oleh Allah SWT melalui perantara malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW adalah surat Al-Alaq ayat 1-5.

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿1

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿2

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ ﴿3

Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿4

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿5

Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

 

Perintah membaca menjadi titik tolak umat Islam atau bahkan seluruh umat manusia untuk memulai memahami dunia dan isinya.

Peranan membaca

Membaca menduduki  posisi serta peran yang sangat  penting dalam kehidupan umat manusia. Karena pentingnya sampai-sampai Allah menyampaikan ayat pertamanya dengan perintah “iqraa’ yang maksudnya ‘bacalah, bahkan sebelum memperkenalkan diri-Nya. Perintah ini bukan tanpa alasan karena setelah kita tahu membaca merupakan jembatan bagi siapa saja dan di mana saja yang berkeinginan meraih kemajuan dan kesuksesan. Banyak  pakar sepakat bahwa kemahiran membaca (reading literacy) merupakan condition sine qua non (prasyarat mutlak). Pada ranah antropologi budaya literasi merupakan sesuatu yang memegang peranan penting dalam meretas kemajuan kehidupan dan ketinggian kebudayaan umat manusia yang kemudian menjadi peradaban.

Semua proses belajar sesungguhnya diawali atas kegiatan membaca dan dilanjutkan dengan kegiatan menulis, juga hanya dengan melalui kegiatan literasi kita dapat menjelajahi luasnya dunia ilmu yang terhampar luas dari berbagai penjuru dunia.

Proses membaca

Unsur utama yang hadir dalam setiap kegiatan membaca adalah pemahaman (understanding). Sebab kegiatan membaca yang tidak disertai dengan pemahaman bukanlah kegiatan membaca. Selain itu, membaca merupakan suatu proses psikologis yang melibatkan segenap jiwa raga untuk ikut larut meresapi apa yang sedang ada dalam proses membaca. Karenanya kesiapan dan kemampuan membaca seseorang sangat dipengaruhi oleh motivasi dan minat dari dalam diri.

Selain itu, membaca adalah sebuah proses sensoris yang artinya kemampuan membaca akan melibatkan pengalaman-pengalaman dengan stimulus lingkungan sekitarnya. Di banyak penelitian pendidikan ditemukan seorang anak akan dianggap siap membaca pada usia 5-6 tahun. Meskipun pada penelitian yang lain ditemukan sejak lahir manusia sudah bisa diajak membaca bukan dalam arti literer seperti orang dewasa. Temuan Teori Glenn Doman bisa menjadi acuan dalam kaitan ini. Di mana dikatakan bahwa seorang bayi sudah bisa mengenali kata-kata tertentu jika diajarkan walaupun belum bisa melafalkannya.

Perkembangan dan keterampilan berbahasa

Membaca merupakan salah satu dari empat komponen ketrampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara dan menulis (Tarigan, 1980). Sebagai suatu ketrampilan membaca hanya akan dapat dicapai dengan baik jika disertai dengan upaya latihan yang sungguh sungguh. Karena bersifat keterampilan maka membaca harus terus diasah dan dilatih. Seperti seorang atlit olahraga, keterampilan membaca akan mengalami kemunduran atau kemajuan tergantung pada kemauan untuk mengembangkannya. Dari sini akan lahir pula kemampuan berbahasa seseorang yang di kemudian hari bisa dipergunakan untuk berkomunikasi antar manusia. Contoh paling mudah kita lihat di era digital seperti sekarang ini, komunikasi manusia sudah ditentukan oleh proses membaca melalui media sosial. Ditemukannya aplikasi popular, seperti ; WhatsApp, Twitter, Facebook, Instagram dan lain-lain tidak lepas dari perkembangan membaca yang berujung pada keterampilan berbahasa untuk berkomunikasi.

Kiranya tidak berlebihan jika kemamapuan membaca menjadi tolak ukur kemajuan sebuah peradaban. Semakin banyak anak bangsa yang melek literasi semakin maju negara mereka, begitu sebaliknya. Sejarah peradaban dunia telah membuktikan hal ini sebagaimana kita lihat dalam situs-situs yang mereka tinggalkan.

 

Ditulis oleh: Ustadzah Siti Nur Istikhoroh, S.Pd.I. (Guru ISMUBA)