Fathir, Pendekar Cilik Juara Internasional

Umumnya, sang juara hanya ahli pada satu kategori. Tapi, Fathir Arya Mustofa berhasil menyabet juara di dua kategori yang kontras. Yakni, seni, kategori yang menonjolkan keluwesan, dan fight, kategori yang mengandalkan ketangkasan.

PELUH membasahi wajahnya. Mengenakan celana combor berlogo IPSI (Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia), Fathir Arya Mustofa memperagakan jurus-jurusnya. Pandangannya tajam ke depan, sementara kakinya kokoh memasang kuda-kuda.

”Yang ini jurus Harimau Tapak Suci,” ujar Fathir kecil di sela-sela latihan saat ditemui di rumahnya, Jalan Pemandian, RT 07 RW 09, Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, kemarin (18/2).

Arah jarum jam menunjukkan pukul 14.00. Bocah 13 tahun itu kemudian melanjutkan latihannya. Gerakannya lentur, serta kembangannya pendek-pendek. Ya, jurus yang diperagakan itu untuk kategori seni yang menonjolkan kelenturan. Berbeda dengan jurus pada kategori kompetisi yang fight yang mengutamakan ketangkasan.

Siswa kelas VI SD Muhammadiyah 9 Malang itu lantas menceritakan keberhasilannya merebut juara di kompetisi Pencak Silat Paku Bumi Open IV Asia-Eropa di Bandung pada 2–4 Februari lalu. Di kompetisi internasional tersebut, Fathir berhasil merajai dua kategori. Yakni, kategori seni dan fight.

”Dua-duanya saya meraih medali emas,” kata bocah kelahiran Jakarta, 29 Oktober 2005, itu.

Kepiawaian Fathir tergolong langka. Umumnya, para juara hanya menguasai satu kategori. Jika ahli di kategori fight, biasanya lemah di kategori seni. Begitu juga sebaliknya, bila jago di kategoi seni, biasanya lemah di kategori fight. Sebab, dua kategori itu menonjolkan sisi yang berbeda. Apalagi, Fathir tidak pernah membaca buku pencak silat.

Lantas, bagaimana Fathir bisa menguasai jurus-jurus pencak silat?

Terlahir dari keluarga pencak silat, tentu Fathir kecil kerap melihat ayahnya berlatih. ”Saya juga sering lihat kakak latihan dan bertanding,” kata putra Kapten Endri Mustofa, perwira TNI yang berdinas sebagai kepala Unit Rikkes RS Tk.II dr Soepraoen tersebut.

Sebenarnya, keluarganya sempat melarang Fathir berlatih. Terutama ibunya, Dyah Arbaeni. Itu karena Fathir kecil mengidap asma. ”Saya punya asma. Itu yang bikin Ibu takut kalau saya latihan berat,” tuturnya yang didampingi ibunya saat berbincang dengan koran ini.

Meski dilarang, Fathir rupanya tetap berlatih. Pada 2013 lalu, dia menjajal jurus-jurus yang biasanya diperagakan ayahnya saat berlatih. Agar tidak ketahuan ibunya, Fathir diam-diam terus berlatih. Khususnya saat di sekolah.

Motivasi terbesarnya mempelajari silat adalah menjadi juara. Sebagai anak laki-laki, dia ingin membuktikan kemampuannya kepada ibunya. Kini, pembuktian yang diinginkannya itu berhasil. Saat dipilih pelatih di sekolahnya untuk duet dengan kakak kelasnya terjun di kategori seni, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu.

Fathir sadar akan kemampuannya. Dia dipilih karena cepat menghafal jurus-jurus pencak silat. Meski begitu, bukan berarti perjalanan dunia silat Fahir tanpa hambatan. Dia juga pernah bertanding dan tidak meraih juara. Belum lagi larangan ibunya karena dia sempat sakit.

”Ibu melarang, tapi Ayah terus menyemangati,” kata siswa Tapak Suci sabuk kuning melati empat itu.

Sembuh dari sakit, Fathir kembali latihan. Ibunya mengizinkan, tapi dengan syarat. Yakni, jurus yang dipelajarinya tidak terlalu berat. Lagi-lagi, Fathir harus meyakinkan ibunya kalau dirinya tidak memiliki masalah kesehatan. Pada tahun 2015, Fathir berhasil menyabet emas seni ganda tangan kosong dan perak seni beregu Kejurda Tapak Suci Malang Raya.

Prestasinya berlanjut dari tahun ke tahun. Pada 2016, dia menyabet perunggu seni tunggal Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Malang Raya. Saat itu, Fathir juga sudah latihan fight di sekolahnya.

Motivasi Fathir mempelajari jurus di kategori fight adalah karena dia ingin menguasai lebih banyak lagi jurus.

Pada 2016, Fathir menorehkan rekor kali pertama yang tercipta di Kejurda Tapak Suci Malang Raya. Dia menyabet dua emas, satu dari seni tunggal, dan satu dari fight. ”Asma kambuh, tapi saya tidak mau memperlihatkannya pada Ibu,” ucapnya tersenyum.

Sejak itu, kepercayaan dirinya muncul, dan Fathir berlatih lebih giat. Prestasinya pun berlanjut. Pada 2017 dia menyabet emas seni beregu di ajang Open Cup di Universitas Muhammadiyah Gersik (UMG), lalu dilanjutkan meraih perak ganda tangan kosong dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Unair Cup.

Perjalanan Fathir menjuarai kedua kategori yang kontras itu –fight dan seni– tentu tidak mudah. Pada ajang O2SN 2017 misalnya, dia terpaksa menginap seminggu di RS Lavalette karena sakit asmanya kambuh.

Ibunya panik. Karena biasanya, Fathir sudah biasa dirawat di rumahnya saat asmanya kambuh. Di rumah, orang tuanya memang menyediakan obat dan alat medis sederhana untuk keperluan kesehatan keluarga.

Namun di tahun yang sama, Fathir kembali berjaya dalam Kejurda Tapak Suci di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tiga medali dia raih sekaligus dalam satu event itu. Emas fight, emas seni ganda, dan pesilat terbaik yang terpilih dari ratusan pesilat yang bertanding.

Tak berhenti di situ. Pada awal Februari lalu, Fathir pulang dari Bandung setelah menggondol dua medali emas dari dua kategori yang kontras itu, fight dan seni. ”Saya bisa meraih juara karena rajin berlatih. Setiap hari saya latihan sepulang sekolah hingga menjelang magrib,” tandasnya.

Sumber : radarmalang.id