Adakah yang Salah ketika Berbeda?

Kehidupan di sekitar kita terbiasa dengan sesuatu yang sama atau seragam. Seragam menunjukkan kekompakan, kesatuan, dan kebersamaan. Kesamaan tersebut menjadi sesuatu yang indah jika ternyata disetujui atau didukung mayoritas orang dalam sebuah komunitas. Keseragaman seolah-olah menunjukkan kebenaran terhadap sesuatu hal atau peristiwa.

Pada dasarnya, setiap manusia diciptakan dengan keberagaman antara satu dengan lainnya. Keberagaman tersebut membuka peluang munculya terjadi perbedaan ide atau pendapat dalam menyikapi suatu permasalahan. Perbedaan gagasan adalah sesuatu yang biasa, namun juga dapat menjadi sebuah permasalahan.

Dalam pendidikan, perbedaan sering ditemukan dalam kegiatan pembelajaran. Siswa dalam sebuah kelas pada dasarnya bukanlah siswa yang homogen, namun mereka adalah siswa yang heterogen. Bahkan, antara siswa satu dengan lainnya memiliki kekhasan dan perbedaan. Demikian pula cara mereka dalam mencapai kompetensi yang dipelajari. Terdapat siswa yang sudah cukup puas menguasai kompetensi dengan cara yang disampaikan oleh guru. Namun, terdapat pula siswa yang mencoba mencapai kompetensi menggunakan cara yang berbeda dengan guru.

Contoh sederhana dari keberagaman tersebut adalah pada mata pelajaran Matematika. Ketika guru menerangkan cara menghitung berapakah hasil dari 11 x 23, maka ada siswa yang menggunakan cara perkalian susun, ada pula yang menggunakan cara (10 x 23) + (1 x 23), atau mungkin dengan cara menambahkan (23+23+23+23+23+23+23+23+23+23+23). Ketiga cara tersebut sama-sama benar, baik secara konsep dan hasilnya. Bisa jadi guru mengajarkan perkalian dengan cara pertama, namun ternyata terdapat siswa yang mencoba menyelesaikan dengan menggunakan cara kedua atau ketiga.

Jika menemukan peristiwa seperti itu di kelas, maka guru tidak perlu menyalahkan siswa karena tidak menyelesaikan tugas sesuai dengan perintah. Sikap bijak yang perlu dilakukan oleh guru adalah mengapresiasi setiap perbedaan dan memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkannya dan memperluas khazanah keilmuan. Dengan demikian, siswa di kelas tersebut akan dapat menyelesaikan suatu masalah dengan cara-yang lebih bervariatif.

Pendapat atau ide yang berbeda tidaklah harus ditentang dan dianggap aneh. Salah satu peran guru adalah menanamkan sifat menghargai perbedaan sekecil apapun di antara sesama. Hal tersebut sebagai upaya membentuk kepribadian siswa. Jika sedari dini siswa dibiasakan menghargai perbedaan dalam hal sekecil apa pun, maka hal tersebut akan menjadi sebuah karakter yang melekat pada siswa di masa depan. Apalagi di negara Indonesia terdapat bermacam agama, bermacam suku bangsa, bermacam bahasa dan lain sebagainya. Sehingga memang perlu ditanamkan ketika kita berbeda janganlah di anggap aneh.

Berbeda belum tentu salah, sama belum tentu benar. Nilai tersebut perlu ditanamkan ke siswa agar selalu menghargai dan menghormati pendapat orang lain. Kebenaran tidak ditentukan dari jumlah, namun perlu dibuktikan secara ilmiah. Jika menjumpai pendapat orang lain benar, maka sifat terbaik adalah menerima dan mendukung pendapat tersebut sebaliknya jika menjumpai pendapat orang lain salah, maka sifat terbaik adalah menghargai pendapat orang lain. Oleh karena itu kita harus bisa menghargai setiap perbedaan yang ada.

 

 

Ditulis oleh: Diyah Ayuning Tyas, M.Pd

Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Upgreding Meningkatkan Kualitas Ibu Sebagai Guru

Tanggal 22 Desember tepat Indonesia memperingati hari ibu. Hari istimewa untuk orang yang istimewa yaitu IBU. Ibu adalah master segala ilmu, ibu dengan segala keistimewaan dan fitroh kelebihannya mampu menunaikan tugas dalam satu waktu dengan baik yaitu sebagai manajer keluarga, sebagai guru anak, psikolog handal yang tahu kapan anak sedih dan gembira, akuntan hebat, sahabat baik, chef merangkap ahli gizi, desain interior, pertamanan sekaligus pegawai kebersihan dan masih banyak lagi (Dosenpsikologi, 2017). Ibu juga harus terus belajar sepanjang hidupnya sebagai upaya menjaga kualitas seorang ibu.

Dalam menyambut hari ibu yang tepat diperingati saat liburan sekolah, para ibu yang bertugas sebagai guru SD Muhammadiyah 9 Malang tetap mengisi liburannya dengan upgreding yaitu upaya peningkatan mutu guru. Kegiatan upgreding dilaknakan selama lima hari dengan berbagai rangkaian acara mulai dari kegiatan mengaji bersama (KMB), kultum, pembagian tugas akreditasi, penyelesaian perangkat untuk semester dua dan diskusi program kerja untuk pembelajaran tahun ajaran 2018-2019. Semua rangkaian kegiatan upgreding tersebut upaya meningkatkan mutu guru sekaligus mutu para ibu karena sebagian besar guru di SD Muhammadiyah 9 Malang adalah perempuan yang merangkap tugas sebagai ibu dan calon ibu.

Hasil pengamatan dari kegiatan upgreding SD Muhammadiyah 9 Malang, Ibu adalah orang hebat, sangat terlihat sekali beberapa guru yang berperan sebagai ibu harus rela membawa anaknya kesekolah untuk bersama mengikuti kegiatan upgreding. Karena anak di massa liburan menuntut para ibu bisa menghabiskan waktu bersama dengan mereka, disisi lain ibu juga tetap harus mengemban tugas sebagai guru untuk mengikuti serangkaian program sekolah sebagai bagian dari sekolah. Mereka para ibu harus membagi konsentrasi antara pelaksanaan upgreding dengan pemberian perhatian untuk anak dan hal itu butuh energi besar, hal itu perlu menejerial yang ampuh sehingga semua mampu dilaksanakan secara bersama dengan hasil yang baik. Tapi jangan khawatir wahai para ibu janji tuhan itu pasti semua kebaikan pasti palasannya kebaikan.

Seorang ibu yang merangkap tugas sebagai seorang guru merupakan tugas yang sangat mulia dan wadah belajar yang sangat baik karena tugas itu saling berkaitan. ibu sebagai guru utama dan yang pertama pagi anak, oleh sebab itu apabila ibu merangkap tugas menjadi guru paling tidak mereka akan mampu mengajarkan yang terbaik untuk anaknya sendiri, sebaliknya ketika ibu mendapatkan ilmu selama mendidik anak dirumah maka itu juga bermanfaat untuk mengajarkan pada peserta didik di sekolah dengan baik. Karena kita sebagai ibu dan guru akan sangat banyak mendapatkan pengalaman mengajar dan bahan belajar terutama dari perkembangan anak dan peserta didik. Guru akan mampu membuat media belajar untuk anak dengan motorik tinggi ketika guru menangani peserta didik dengan motorik tinggi. Ibu akan tahu cara membangun fokus anaknya di rumah karena ibu pernah menagani dan mendampingi anak ketika makan akan lebih lama saat dilakukan dengan nonton tv. Pengalaman-pengamalan nyata yang pernah ibu dan guru alami adalah guru dasyat untuk menjadi ibu guru yang hebat dunia akherat.

Tetaplah menjadi IBU dan GURU yang hebat, teruslah berkarya di rumah dan di sekolah, teruslah belajar untuk yang terbaik, Jaga kesehatan agar kehidupan keluarga dan pendidikan berjalan baik, teruslah bersyukur karena kedudukanmu yang terbaik. Semangat wahai para IBU GURU.

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Pembelajaran Sub Tema Proyek bersama Orang Tua Ahli

Kurikulum 2013 edisi revisi 2017 tidak banyak berbeda dengan kurukulum 2013 sebelumnya. Kurikulum 2013 edisi revisi 2017, muatan matematika dan muatan PJOK terlepas dari muatan tematik holistik. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada kurikulum 3013 edisi revisi 2017 harus terdapat empat macam hal yaitu; PPK, Literasi, 4C, dan HOTS.

Khusus pembelajaran di kelas 5 setiap tema pada buku siswa kurikulum 2013 edisi revisi 2017 terdapat 4 sub tema yang sebelumnya hanya terdiri dari 3 sub tema. Khusus sub tema 4 pembelajaran hanya berbasis proyek, perubahan ini adalah perubahan yang luar biasa. Dalam sub tema 4 siswa dalam seminggu dilatih dan diasah secara langsung menyelesaikan beberapa proyek pembelajaran yang mampu memfasilitasi penerapan pembelajaran PPK, 4C dan sarana pengembangan keterampilan berfikir tingkat tinggi siswa (HOTS).

Pelaksanaan pembelajaran proyek sangat tepat sebagai sarana penerapan pembelajaran berbasis masyarakat bekerja sama dengan orang tua ahli. Orang tua siswa sangat beragam dengan keahlian masing- masing, hal tersebut bisa digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran siswa dengan tepat sekaligus untuk melengkapi, mengembangkan kemamuan, keahlian dan keterampilan guru.

Pembuatan proyek boneka jari tangan adalah proyek dimana siswa membuat boneka jari tangan berbentuk hewan dari bahan kain flanel yang dijahit dan dimodifikasi dengan baik. Proyek boneka jari tangan ini dalam rangka pembuatan media untuk mengasah keterampilan siswa dalam mengembangkan motorik halus, motorik kasar siswa sekaligus sarana penerapan 4C serta PPK pada siswa.

Contoh nyata penerapan 4C, pembuatan boneka jari tangan membutuhkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif dalam rangka menyusun bentuk yang tepat antara badan hewan dan bentuk telinga yang tepat agar hasil boneka jari baik. Pembuatan boneka jari tangan juga memerlukan kemampuan kolaborasi yang sangat tinggi yaitu kemampuan kolaborasi memilih warna kombinasi boneka jari dengan tepat ataupun kolaborasi dengan teman sejawat dalam rangka melengkapi bahan dan kemampuan siswa dengan tetap menjaga kebersihan lingkungan kelas dari sisa pembuatan boneka jari tangan.

Proyek boneka jari tangan juga merupakan sarana siswa mampu menciptakan sebuah karya media pembelajaran untuk mengkonkritkan wujud hewan, alat gerak hewan sehingga bisa sebagai media bercerita untuk memperjelas materi alat gerak hewan untuk dirinya sendiri, teman sejawat, atau untuk adiknya.

Proses pembuatan proyek boneka jari tangan terdiri atas beberapa tahapan yaitu:

1. Tahapan pelatihan guru dan pendamping kelas oleh orang tua ahli. Tim kelas 5 mendatangkan salah satu orang tua yang ahli dan terampil membuat boneka dan souvenir untuk memberikan pelatihan khusus terhadap guru dan pendamping di jam mengaji dan istirahat sekolah. Kegiatan ini memeberikan bekal kepada guru dan pendamping kelas agar mampu memberi contoh dan mendampingi siswa saat proses pembuatan proyek jari tangan di kelas nantinya.

2. Tahapan pelaksanaan proyek, pada tahapan ini tim kelas 5 tetap bekerja sama dengan orang tua ahli yaitu beberapa wali murid yang mempunyai keahlian menjahit dan membuat sauvenir. Tujuan kerja sama agar pelaknaan proyek pembuatan boneka jari tangan akan lebih efektif dan evisien, karena setiap kelompok akan terdampingi dengan baik oleh guru,pendamping dibantu beberapa wali murid ahli.

3. Tahapan pemajangan hasil dan pemanfaatan hasil siswa. Media pembelajaran berupa boneka jari tangan bisa langsung digunakan siswa untuk presentasi dongeng atau cerita berdasarkan bentuk boneka jari tangan yang dihasilkan.

Semoga tulisan ini bermanfaat dalam pengintegrasian proses pembelajaran antara warga sekolah dengan masyarakat ahli, sekaligus sarana silaturohim dan sarana berbagi keahlian dalam proses peningkatan mutu pendidikan.

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Hari Kartini dengan Kampung Dolananku di Kelas

Kartini adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.Hari kartini diperingati setiap tgl 21 April yang tahun ini bertepatan pada hari Jumat tanggal 21 April 2017. Kartini sebagai sosok pahlawan yang membuat keseteraan kaum perempuan diakui. Bukan soal kebaya yang selalu harus menjadi trademark dalam perayaan hari Kartini, lebih dari itu semangat juangnya yang membuat kaum wanita lebih harus memaknai arti emansipasi wanita pada era sekarang.
SD Muhammadiyah 9 Malang dalam rangka memperingati hari Kartini membuat program pemakaian baju kebaya selama proses pembelajaran tepat tanggal 21 April 2017. Program untuk mengiringi pemakaian kebaya sebagai peringatan hari Kartini dan penanda sosok Kartini dilimpahkan pada kreatifitas guru masing-masing.

Hasil koordinasi team kelas 5 SD Muhammadiyah 9 Malang dalam rangka mensukseskan program sekolah untuk memperingati hari Kartini mengusung tema” Kampung dolananku ono ing kelas”. Tema ini diangkat dalam rangka mengisi peringatan hari Kartini sekaligus mengenalkan bentuk dolanan atau permainan tradisional Indonesia pada peserta didik. Harapannya media peringatan hari Kartini dan pemakaian kebaya oleh peserta didik mampu mendukung kembalinya suasana tempo dulu dengan didukung aktifitas bermain tempo dulu atau permainan tradisional Indonesia.

Jenis permaian tradisional Indonesia yang akan di gelar di ruangan kelas 5 adalah permaian dakon, bola bekel, kempyeng dan kelereng. Permainan tradisional Indonesia tersebut sekaligus sebagai sarana pembelajaran pendidikan budaya dan karakter peserta didik. Peserta didik bermain dengan memaksimalkan aktifitas motorik dan secara bawah sadar pengembangan beberapa indikator pendidikan budaya dan karakter seperti kejujuran, kerjasama, cinta tanah air, toleransi, bersahabat/komunikatif serta rasa ingin tahu, karena banyak sekali peserta didik yang tidak mengenal jenis permainan tradisional Indonesia, nama saja asing apalagi cara bermainnya. Maka perlu sekaranglah waktu tepat untuk mengenalkan jenis permainan tradisional Indonesia dan gurulah sebagai fasilitator hebat untuk memulainya.

Teknis dalam memperingati hari Kartini dengan tema “Kampung dolananku ono ing kelas” adalah sebagai berikut:

Tahap persiapan:

– 2-3 hari sebelum pelaksanaan peserta didik dibagi tugas membawa media sesuai dengan jenis permainan tradisional Indonesia yang dimainkan.

– Guru membagi jumlah media sesuai kapasitas kelas dengan mempertimbangkan cara bermain.

– Menata kelas pada H-1 pelaksanaan permaianan, sehingga pada saat pelaksanaan lokasi sudah cukup mendukung.

Tahap pelaksanaan:

– Demonstrasi permainan, Siswa yang mampu atau dibantu guru mendemonstrasikan jenis permainan tradisional Indonesia seperti dakon, bola bekel, kempyeng dan kelereng di depan kelas.

– Siswa secara serempak melakukan permaian dengan aturan bermain yang sesuai pada masing-masing jenis permainan tradisional Indonesia seperti dakon, bola bekel, kempyeng dan kelereng dalam waktu yang telah ditentukan.

– Permaian akan bergulir pada jenis permainan tradisional Indonesia yang lain dengan dibatasi waktu. Dengan harapan semua merasakan jenis permainan tradisional Indonesia secara langsung.

Semoga bermanfaat dan mampu menginspirasi pembaca untuk mulai mengenalkan jenis permainan tradisional Indonesia sekaligus sebagai pengingat peringatan hari besar Nasional serta sebagai upaya pelestarian budaya Indonesia pada generasi Indonesia yang hebat.

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Peserta Didik Bertengkar Guru Terancam

Undang-Undang (UU) No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pada Bab 1 Pasal 1 menjelaskan tentang arti Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Menurut uraian tersebut tugas guru merupakan tugas yang berat karena guru harus menunaikan tugas yang banyak, membutuhkan proses panjang dan harus mengaplikasikan pada obyek hidup, bergerak yaitu peserta didik dengan jumlah lebih dari satu yang masing-masing memiliki keberagaman karakter. Pada Jenjang sekolah dasar, kompleksitas tugas guru tersebut akan bertambah dengan ikut berperannya orang tua sebagai masyarakat pendidikan dalam sebagaian proses berlangsungnya pendidikan.

Orang tua sebagai masyarakat pendidikan merupakan agen penting dalam pendidikan. Pendidikan akan berjalan sukses dengan dukungan masyarakat orang tua. Hubungan tersebut berjalan baik ketika hubungan antara sekolah dan masyarakat orang tua wali terjalin dengan baik, karena masyarakat orang tua mampu sebagai brosur berjalan pada tahapan promosi sekolah sekaligus mampu sebagai sumber belajar siswa dimana masyakat orang tua bisa menjadi pengajar sesuai bidang masing-masing sebagai penerapan pembelajaran nyata peserta didik dan sebagai inspirator bagi peserta didik.

Peristiwa nyata di lapangan yang terjadi ketika kerja sama sekolah, guru dan orang tua tidak terbangun dengan baik. Peserta didik memang tanggung jawab sekolah sekaligus guru pada saat proses pembelajaran, tetapi jam-jam tertentu misalnya jam istirahat dan peralihan jam bebas misalnya mengaji. Pegawasan guru terhadap peserta didik sangat tinggi tetapi kaustik bisa saja terjadi misalnya peserta didik yang tertengkar karena dimulai dari hanya saling mengejek, hal tersebut terjadi bukan karena guru tidak mengawasi tetapi
kondisi berteman, saling mengejek kadang bagian perkembangan kreatifitas siswa dan dengan bantuan guru mediasi pertengkaran antara peserta didik mampu tersesesaikan di sekolah.

Setelah peristiwa di sekolah dibawa pulang ke rumah dan peserta didik saling lapor ke orang tua masing-masing ada orang tua yang kurang bijaksana dalam memahami tumbuh kembang anak dalam bersosialisasi dan menyelesaian masalah, akhirnya orang tua ke sekolah langsung menemui guru di kelas mengintimidasi guru dengan keras, mengancam guru, berdiri dengan menunjuk-nunjuk hingga melemparkan benda di sekitarnya di depan guru dengan keras.

Hal tersebut menyebabkan guru serba salah dalam menunaikan tugas, guru akan semakin menjaga jarak dengan masyarakat orang tua bahkan dimungkinkan para guru akan enggan <a href=”http://www.sekolahdasar.net/2017/03/jangan-mendisiplinkan-siswa-dengan-kekerasan.html”>menegur siswa</a> dan akhirnya akan terjadi pembiaran.

Peristiwa di atas bisa terjadi karena faktor internal eksternal masyarakat. Sikap masyarakat orang tua pada keadaan nyata dilapangan sekarang mulai mengalami pergeseran dalam memandang profesi guru, karena masyarakat orang tua banyak di sibukkan dengan aktifitas pekerjaan masing-masing sehingga mengalami pengurangan pada tanggung jawab mendampingi, menunaikan amanah sebagai orang tua yang mempunyai tanggung jawap pertama menjadi sekolah utama pada tumbuh kembang serta pendidikan anak. Mereka terlalu banyak menuntut sekolah dan guru agar dapat menghantarkan peserta didik sebagai masyarakat terdidik, namun tidak seiring dengan kerja sama, penghargaan dan perlindungan yang diberikan.

Baca juga: Permendikbud No 10 Tahun 2017 Perlindungan Bagi Guru

Solusi yang coba penulis uraikan dari peristiwa di atas sekaligus sebagai upaya perlindungan terhadap profesi guru sekaligus penerapan UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pada Bab III Pasal 7 (h) guru memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan antara lain:

  1. Sekolah mempunyai alur aturan yang jelas tentang cara menyelesaikan permasalahan.
  2. Sekolah memberikan batas area orang tua. Hal ini digunakan untuk mengatur batas campur tangan orang tua terhadap aturan sekolah.
  3. Melengkapi sarana prasarana sekolah. Misalnya pemasangan CCTV di ruang kelas sebagai obyek refleksi, media bukti dan perbaikan yang terkoordinir.

Daftar Pustaka

Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

*) Ditulis oleh Louis Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

Majalah Dinding Sarana Menumbuhkan Budaya Literasi

Literasi adalah kemampuan membaca menulis sekaligus kemampuan mengakses, memahami dan menggunakan informasi secara cerdas. Berdasarkan data di lapangan kemampuan literasi pada anak mengalami penurunan, hal tersebut berdasarkan data hasil akomodir laporan dari orang tua dilapangan yang memberikan informasi bahwa anak sering bertanya kepada orang tua ketika menyelesaikan latihan soal tulis disebabkan anak mengerjakan tanpa membaca terlebih dahulu, belajar anak sering dilakukan dengan cara orang tua membacakan uraian konsep bacaan sedangkan anak hanya mendengarkan, hal tersebut dilakukan oleh orang tua dengan pertimbangan daripada anak tidak mau belajar atau membaca. Proses belajar seperti itu disadari oleh orang tua bukan solusi belajar anak yang tepat karena menyebabkan anak mengalami ketergantungan dalam belajar dan berdampak tidak baik dalam pembentukan karakter kemandirian. Masalah tersebut juga disebabkan karena kemampuan membaca anak belum tumbuh.

Fakta berikutnya peserta didik mempunyai kecenderungan mengalami kesulitan saat mengerjakan tes evaluasi belajar dalam bentuk uraian atau bentuk soal cerita karena dalam tes evaluasi belajar berbentuk uraian terdapat aspek memahami, aplikasi sekaligus analisis yang dibutuhkan sebelum menyelesaikan tes evaluasi belajar dalam bentuk uraian dan hal tersebut akan lebih mudah dilakukan apabila anak rajin membaca. Berdasarkan taksonomi, tujuan pendidikan yang dikembangkan oleh Benjamin S. Bloom dalam Nirsam (2005:21) meliputi kognitif, afektif dan psikomorik dan ranah yang diamati adalah ranah kognitif yang berkaitan dengan penalaran yang meliputi enam aspek, yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.

Fakta dilapangan berikutnya adalah peserta didik sering bertanya tentang arti/ sinonim dari sebuah kata dalam bacaan, hal itu tentu terjadi karena rendahnya kemampuan membaca pada anak sehingga anak mengalami penurunan penguasaan kosakata, hal tersebut sesuai dengan artikel dalam Bloganakpertama tentang cara yang bisa dilakukan untuk menambah kosakata anak salah satunya adalah membaca dan mendongeng.
Menurut fakta dilapangan, berdasarkan pengamatan perkembangan pada anak dan pada peserta didik faktor utama menurunnya kemampuan membaca adalah:

  1. Beralihnya fasilitas bermain pada anak, anak sering bermain menggunakan gadged yang cara bermainnya hanya membutuhkan kontak antara dirinya sendiri dengan media bermain sehingga tidak terbangun komunikasi dua arah dalam waktu tertentu.
  2. Alat –alat elektronik berkembang sangat pesat dan beragam, seperti tayangan televisi dengan berbagai saluran televisi dengan beragam acara. Televisi menyajikan semua serba instan, mulai dari sedih , lucu, marah semua sudah siap dinikmati. Hal tersebut menyebabkan anak bahkan orang tua pu bisa lepas fokus. Misalnya kegiatan makan yang dilakukan bersama melihat televisi menyebabkan waktu makan lebih lama
  3. Orang tua senantiasa disibukkan berbagai kegiatan, serta membantu mencari tambahan nafkah untuk penghidupan keluarga. Kadang itu membuat para pelajar merasa kehilangan kasih sayang dan mencari kegiatan lain untuk mencari cara menghilangkan kejenuhan dan itu cenderung mengarah ke hal yang negative.

Majalah Dinding

Majalah dinding adalah salah satu jenis media komunikasi massa tulis yang paling sederhana, Prinsip majalah tercermin lewat penyajiannya, baik yang berwujud tulisan, gambar, atau kombinasi dari keduanya untuk menampilkan bermacam-macam hasil karya, seperti lukisan, vinyet, teka-teki silang, karikatur, cerita bergambar, dan sejenisnya disusun secara variatif. Semua materi itu disusun secara harmonis sehingga keseluruhan perwajahan mading tampak menarik. Bentuk fisik mading biasanya berwujud lembaran tripleks, karton, atau bahan lain dengan ukuran yang beraneka ragam. Peranan majalah dinding yang tampak pokok sebagai salah satu fasilitas kegiatan siswa secara fisikal dan faktual serta memiliki sejumlah fungsi, yaitu :informatif,komunikatif, rekreatif, dan kreatif. https://id.wikipedia.org/wiki/Majalah_dinding
Program literasi membutuhkan media yang tepat untuk menerapkan keseluruhan konponen literasi seperti membaca, menulis, mengakses, memahami dan menggunakan informasi secara cerdas. Majalah dinding merupakan salah satu media yang tepat untuk memfasilitasi program literasi karena majalah dinding (mading) merupakan media untuk memasang hasil karya peserta didik berupa tulisan atau gambar. Hasil tulisan peserta didik merupakan bukti hasil berkembangnya kemampuan menulis pada peserta didik. Hasil peserta didik berupa gambar juga mampu sebagai sarana pengembangan kreatifitas peserta didik, hasil gambaran peserta didik yang telah di pasang pada majalah dinding (mading) sebagai bahan inspirasi peserta didik yang lain untuk senang menggambar dan sebagai daya tarik peserta didik mengakses informasi dengan cara melihat dan memanfaat majalah dinding (mading ) dengan baik sebagai sarana penghargaan pada peserta didik yang telah berkarya.
Majalah dinding (mading) merupakan sarana untuk menampilkan hasil kemampuan peserta didik dalam mengakses informasi baik dari media cetak maupun media elektronik dengan tema, guru membatasi dengan tema tertentu dalam rangka melatih peserta didik menentukan hasil akses yang sesuai dengan perkembangan usia. Hasil akses informasi yang telah terpasang dalam majalah dinding (mading) mampu digunakan sebagai bahan membaca bagi teman lain, sehingga peserta didik mendapatkan ilmu dari semangat membaca majalah dinding (mading) yang ditampilkan dengan menarik. Kegiatan seperti ini secara langsung mampu memfasilitasi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan membaca, menulis, mengakses, memahami dan menggunakan informasi secara cerdas.
Media majalah dinding (mading) mampu menjadi media yang memfasilitasi program literasi dengan mewadahi seluruh komponennya. Beberapa pertimbangan yang mampu memaksimalkan hasil majalah dinding (mading) sebagai media pendukung prodram literasi adalah:

1. Papan majalah dinding (mading) dibuat permanen dengan latar papan yang menarik sesuai dengan dunia anak-anak dan sudah dipertimbangkan tingkat keamanannya. Misalnya, dari bahan triplek yang dicat dengan gambar,warna sesuai dunia anak dan melindungi sudut yang lancip dengan bahan yang lunak sehingga tidak berbahaya dan aman. Hal tersebut dengan tujuan majalah dinding (mading) tidak mengalami kerusakan dalam waktu yang pendek karena kepingan majalah dinding (mading) berupa gambar dan tulisan yang berubah secara rutin dengan tema tertentu dalam jangka waktu tertentu.

2. Pemasangan majalah dinding (mading) dipasang dengan ketenggian yang disesuaikan dengan tinggi rata rata peserta didik yang berada dalam kelas tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah jangkauan peserta didik dalam memasang, membaca, menikmati maupun mengakses seluruh kepingan gambar dan tulisan.

3. Kepingan tulisan dan gambar yang terpasang pada majalah dinding (mading) sesuai dengan tema anak-anak yang berganti secara rutin pada jangka waktu tertentu. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kebosahan gambar dan informasi yang dilihat oleh peserta didik dan memperkaya informasi peserta didik yang menikmati majalah dinding (mading)
Semoga media majalah dinding (mading) mampu menginspirasi pembaca dan pendidik (guru) dalam rangka menciptakan media kreatif yang lain sebagai sarana pembelajaran sekaligus support terhadap program pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas membaca pada anak.

*) Ditulis oleh Loukais Ifka Arishinta, M.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang
Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2017/02/majalah-dinding-sarana-menumbuhkan-budaya-literasi.html#ixzz4aog2f0ji

Mengaktifkan Siswa dengan Pembelajaran Debat

Bertanya belumlah menjadi budaya siswa di negeri ini. Siswa pasif, karena guru dominan? Setiap ditawari “ada yang mau bertanya atau tidak jelas?” praktis diam semua.

Siswa pasif disebabkan mereka tidak terbiasa berpikir kritis, mereka menerima apa adanya tentang semua yang ia dengar, baca, amati. Mengapa ini terjadi?. Kadang dalam setiap kelas ada saja siswa yang dominan dibanding yang lain, akhirnya siswa lainnya menjadi minder untuk mengajukan pertanyaan.

Debat merupakan pembelajaran berbasis PBL (Problem Based Learning), melatih siswa untuk memecahkan suatu masalah atau membuat solusi dari isu atau masalah disekitarnya.

Kegiatan beradu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan sangat padu dan menarik terhadap materi memberikan tanggapan suatu berita serta mengaktifkan siswa yang minder, pendiam, dan kurang aktif dalam kemampuan berbicara dan mendengarkan siswa.

Debat juga melatih siswa yang pasif mampu memberikan tanggapan (kritikan/pujian) tentang informasi disertai alasan dengan menggunakan bahasa yang santun, disampaikan secara singkat, jelas dan tidak berbelit-belit serta masuk akal (logis) dan nilai karakter yang harus tidak boleh dilupakan yaitu tidak memotong pembicaraan orang dan tidak menyakitkan perasaan orang.

Siswa berkolaboratif dengan kelompoknya untuk saling menanggagapi dari tanggapan antar kelompok dan harus memperperhatikan etika dan nilai karakter dalam memberikan tanggapan. Point tujuannya yaitu, melatih siswa yang pasif dalam aspek berbicara, mendengar dan siswa belajar berpendapat melalui debat dengan tujuan dewasa nanti siswa dapat memecahkan masalah yang ada di lingkungan sekitarnya.

*) Ditulis oleh Novinda Iwang Darpita, S.Pd. Guru SD Muhammadiyah 9 Malang

[ SekolahDasar.Net | Kamis, 26 Februari 2015 ]
Sumber: http://www.sekolahdasar.net/

Menciptakan Masyarakat Belajar

Penciptaan masyarakat belajar adalah tanggung jawab kita bersama. Maksudnya setiap orang memiliki beban dan tanggung jawab yang sama guna menciptakan masyarakat belajar. Yang membedakan adalah porsinya, sesuai dengan kedudukan kita dalam masyarakat. Pendapat ini sejalan dengan yang tertuang dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 6 ayat 2 yang berbunyi, ”Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan pendidikan,” (UU No.20 tahun 2003). Read more

Berilah Anak Kesenangan dalam Belajar

Belajar merupakan sebuah aktivitas fisik untuk mengetahui sesuatu. Belajar bukan hanya duduk manis sambil mendengarkan guru menerangkan. Akan tetapi, belajar adalah melakukan. Jika kita ingin membatik, maka kita akan membuat batik lengkap dengan peralatannya. Begitu pula jika kita ingin lancar berbicara dengan menggunakan bahasa asing maka kita harus berani berbicara dengan menggunakan bahasa asing tersebut. Read more

Belajar Matematika Mudah dan Menyenangkan

Saat mendengar kata matematika, yang terbayangkan adalah pelajaran yang berisi hitung-menghitung sesuatu yang abstrak. Hal tersebut berdampak pada minat belajar peserta didik yang kurang begitu antusias untuk mempelajari matematika. Andaikan matematika bukanlah mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN), maka nasib matematika barangkali tidak sebaik saat ini. Read more

1 2