Melatih Kemandirian Anak

Salah satu pembelajaran penting yang perlu dilatih dan dikembangkan kepada anak di masa pandemi adalah tentang kemandirian. Semenjak dimulainya sistem pembelajaran daring selama pandemi covid 19, anak-anak lebih banyak mendapatkan waktu luang di rumah bersama keluarga. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk melatih kemandirian anak. Kemandirian dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang tidak tergantung kepada orang lain dalam menentukan keputusan atau bertindak, mengurus segala hal sendiri, serta mampu mewujudkan keinginan dan kebutuhan hidupnya dengan kekuatan sendiri.

Kemandirian dapat menjadi bekal yang penting bagi anak untuk menghadapi kehidupan. Anak tidak selamanya bisa bergantung kepada orang tua ataupun orang-orang di lingkungan sekitarnya. Namun demikian, perlu diingat bahwa kemandiran pada anak tidak terjadi tiba-tiba. Anak perlu dilatih sehingga dapat berkembang menjadi pribadi yang mandiri. Sejak kapan? Kemandirian anak seharusnya dilatih sejak dini, sehingga ketika anak bertumbuh dewasa, anak dapat berkembang menjadi pribadi yang mandiri. Tentu saja ketika anak masih kecil mereka membutuhkan dan mengandalkan orang tua dalam mengarahkan dan membimbing banyak hal, tetapi hal ini semestinya berangsur-angsur berkurang dengan bertambahnya usia anak.

Mengajarkan kemandirian bisa dimulai dari hal-hal kecil dan rutinitasnya sehari-hari atau activity daily living (ADL). Kita bisa mulai mengajarkan kemandirian sesuai dengan usia anak. Misal mulai dengan minum sendiri, makan sendiri, pakai baju sendiri, menyisir rambut sendiri, dan kemudian bertahap sampai mereka dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.

Berikut adalah beberapa tips mengajarkan kemandirian kepada anak.

1. Beri kepercayaan kepada anak untuk melakukan urusannya sendiri

Ketika ingin mengajarkan kemandirian kepada anak, maka kita harus percaya bahwa anak bisa melakukan hal tersebut. Jika kita tidak yakin jika anak bisa, maka kita akan terus mengintervensi dan membantu anak untuk mengerjakan urusannya sendiri. Dengan begitu, anak tidak akan mencoba melakukannya sendiri. Namun, jika kita yakin kepada anak, maka kita akan memberikan anak kesempatan untuk mencobanya sendiri dan terus menyemangati anak.

 

2. Tawarkan bantuan sesedikit mungkin

Sebaiknya tidak langsung memberikan bantuan ketika anak mengerjakan sesuatu. Biarkan anak mencobanya sendiri dan terus berusaha jika belum berhasil. Dengan proses tersebut, anak akan belajar untuk memecahkan masalah. Jika kita selalu membantu anak dari awal, maka anak akan terus bergantung kepada orang lain. Tawarkan bantuan ketika anak sudah mulai mengalami kesulitan setelah beberapa kali mencoba.

3. Berikan pilihan kepada anak

Memberikan pilihan bisa melatih kemandirian kepada anak. Dengan memberi pilihan, anak akan belajar membuat keputusan. Hal tersebut sangat penting untuk kehidupannya kelak ketika dewasa dan harus belajar membuat keputusan untuk hal penting. Jika kita selalu menentukan pilihan untuk anak, maka anak tidak belajar membuat keputusan sendiri dan menjadi kurang percaya diri.

 

4. Berikan waktu untuk anak

Ketika mengajarkan kemandirian kepada anak, mungkin akan butuh waktu yang lebih lama. Misalnya, biasanya anak dipakaikan baju dan sekarang sedang belajar memakai baju sendiri. Tentu saja hal itu akan memakan waktu lebih banyak daripada dipakaikan. Oleh karena itu, kita perlu bersabar dalam melatih kemandirian anak.

 

5. Berikan apresiasi atas usaha anak

Memberikan apresiasi atas usaha anak akan membuat mereka merasa dipahami. Pemberian pujian dan sanjungan seperti ungkapan “Anak sholeh/sholehah”, “Anak pintar”, “Anak Manis”, “Wah kamu pandai sekali”, “Terima kasih ya sayang” atau penghargaan lain berupa senyuman, acungan jempol dan sebagainya akan menjadi reinforcement atau faktor penguat bagi anak untuk melakukan yang lebih baik lagi.

Dengan melatih kemandirian kepada anak secara kontinyu dan konsisten, maka secara otomatis mengajarkan mereka untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dimanapun dia berada. Oleh sebab itu, yuk mulai ajarkan kemandirian kepada anak sedini mungkin.

 

Ditulis oleh: Ustadzah Eka Susantin, S.S (guru inklusi)

 

Daftar referensi:

Home


https://www.uc.ac.id › marriageandfamily